Purchase requesition biasanya dibuat oleh Storekeeper atau departement yang bersangkutan yang berisi tentang permintaan pembelian barang-barang baik untuk store item ataupun direct purchase yang di tujukan kebagian purchasing
Cara membuat Purchase Requesition ( PR ) :
Tentukan jenis barang yang akan di request
Pisahkan barang barang berdasarkan jenisnya ( Food, Beverage, Material )
Tentukan stock on hand sesuai par stock
Tentukan Quantity atau jumlah barang yang di request
Jelaskan unit barang ( Pack, Kg, Can, Ream, Pcs, dsb )
Jelaskan harga terakhir pembelian serta supplier barang tsb
Tentukan waktu delivery ( urgent atau normal )
Lengkapi form PR dengan tanda tangan User atau si peminta barang dan HOD ybs
Setelah barang diterima dan di cek oleh bagian Receiving, selanjutnya tugas storekeeper untuk menyimpan barang-barang tersebut di store, untuk menjaga dan memudahkan pada saat keluar masuk barang maka diperlukan Prosedur Penyimpanan Barang yang benar :
Barang- barang disimpan di store berdasarkan jenisnya : Food, Beverage, Material
Penempatan barang harus berdasarkan sistem FIFO ( First In First Out ) artinya barang yang terlebih dahulu masuk harus disimpan dibagian depan atau dikeluarkan terlebih dahulu supaya tidak terjadi expire date
Pergunakan tempat khusus atau rak penyimpanan barang supaya terjaga dan rapi
Jarak anatara lantai dan rak harus terjaga sekitar 30 cm tingginya dan jarak antara rak dengan dinding sekitar 25 cm, supaya tidak terjadi kelembaban
Ruangan store harus bersuhu dingin supaya kualitas barang tidak cepat rusak
Store keeper dan Cost control harus mengecek semua barang secara periodik supaya tidak ada barang yang spoilege atau expire date
Frozen food : makanan yang disimpan secara frozen atau membeku dengan suhu < -18 c, yang termasuk makanan seperti ini yaitu daging, ayam, ikan serta makanan lainnya yang memerlukan pembekuan
Dairy goods food : Butter, yoghurt, milk, fresh eggs, cheese untuk makanan seperti ini di perlukan store yang mempunyai suhu < 15 c
Dry food : makanan kering seperti makanan kalengan, bumbu, atau bahan pembuat makanan, disimpan di store seperti biasa tapi di perlukan suhu udara yang sejuk supaya tidak cepat rusak
Fruit & vegetable: jenis makanan ini harus ditempatkan khusus supaya terjaga kebersihan dan kesegarannya maka di perlukan suhu yang dingin sekitar 0 - 4 c
Beverage store
Untuk semua item bevergae diperlukan suhu ruangan atau store yang sejuk supaya minuman tidak cepat rusak terutama minuman-minuman yang mengandung alkohol
Material store
Material store biasanya tidak diperlukan suhu yang khusus namun harus dijaga agar barang - barang material tidak berdebu atau lembab ( printing, office suplies, amanities,guest suplies ) dan untuk barang material seperti cleaning suplies dan chemical diperlukan store khusus supaya tidak menimbulkan kontaminasi udara
Tips supaya barang - barang di store tidak hilang dan terjaga kebersihannya :
Cek keluar masuk barang
Gunakan stock card untuk catatan keluar masuk barang
Cek Store requesition setiap hari
Tentukan hari / jam pengambilan barang untuk semua outlet
Cek MOD report atau Night manager report jika terjadi pengambilan barang pada saat malam hari
Bersihkan store setiap hari sebelum pulang
Simpan semua kunci store di safety box atau security
Berdoa dan serahkan semuanya kepada yang maha kuasa agar semuanya aman
Demikianlah prosedur dan Tips penyimpanan barang di store, semoga menjadi informasi yang bermanfaat bagi rekan - rekan semua, terima kasih........
Sebelum membahas lebih jauh tentang minibar, saya akan menjelaskan dahulu tentang posisi minibar
yang merupakan bagian dari departement Food & Beverage, keberadaan minibar merupakan salah satu service hotel untuk melayani kepuasan tamu hotel dalam hal penyajian item - item beverage di kamar. Pendapatan minibar merupakan salah satu revenue hotel yang sangat signifikan, untuk itu sebagai cost control harus bisa menentukan jumlah pemakaian dengan total penjualan actual, untuk itu mari kita bahas bersama-sama tentang minibar cost control
Tujuan minibar cost control :
Untuk menentukan metode pengontrollan yang tepat dalam meningkatkan keuntungan bagian minibar
Bagaimana cara meningkatkan keuntungan minibar..? :
Minibar harus di check setiap hari
Buat rekonsiliation antara consume dan penjualan actual
Pendapatan yang diperoleh dari minibar harus diakui sebagai pendapatan beverage
Buat par stock, supaya item yang terjual dapat di isi ulang kembali
Cost control harus mengecek secara periodik
Cost control dan F&B manager harus mengecek item - item yang expire date
2. Control of sales
Laporan penjualan di minibar voucher harus di check oleh night audit untuk di verifikasi
Cost control harus memverifikasi antara stock yang terjual dengan item yang di request ke store
3. Hitung cost minibar
Tentuan harga penjualan minibar
Penjualan actual dan penjualan yang potensial harus di compare dan di check
Pada saat loporan inventory akhir bulan cost of sales di hitung dan di verifikasi lagi
Demikianlah pembahasan kita tentang Minibar cost control, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya pengunjung blog ini. terimakasih.....
Dalam mengontrol Beverage cost diperlukaan beberapa cara :
1. Menetapkan standarisasi
Standarisasi merupakan faktor yang sangat penting untuk menjamin kepuasan tamu, dalam rangka menerapkan standarisasi ada empat konsep yang harus digunakan :
Standarisasi ukuran minuman : ini di perlukan satu standar yang akurat supaya memudahkan pengonrtrollan sehingga dapat menentukan jenis minuman koktail atau minuman beralkohol.
Standarisasi ukuran gelas : ukuran gelas yang digunakan harus sesuai dengan ukuran gelas minuman yang standar
Standarisasi recipe minuman : ini adalah hal yang penting dalam pengontrollan jenis minuman, supaya mendapatkan harga jual yang tepat sehingga diperoleh cost beverage dari masing-masing jenis minuman.
Standarisasi persediaan : mengontrol stock persediaan harus dilakukan setiap hari agar standar stock persediaan dapat di pertahankan.
2. Potensi nilai penjualan Beverage :
Jumlah penjualan yang diterima sesuai dengan konsumsi actual pada periode yang bersangkutan.
3. Mereview penjualan Beverage :
Cost control harus memeriksa semua volume penjualan minuman dengan cara di rekonsiliasi secara konsisten
4.Menyiapkan laporan Beverage cost :
Laporan cost beverage disiapkan berdasarkan pada biaya actual yang di hitung dari data pembelian, store requestion dan hasil inventory
Demikianlah cara-cara supaya kita dapat mengontrol cost beverage, semoga dapat bermanfaat bagi para pengunjung blog belajar cost control, terimakasih.......
Untuk menentukan biaya recipe yang akurat pada saat pembuatan menu sehingga mendapatkan harga jual makanan yang sesuai dengan food cost.
Pada saat pembuatan standard recipe harus mengikuti :
Ingredients ( nama barang ) dan Condiments
Unit atau quantity barang yang digunakan
unit price dan jumlah porsi
prosedur dan metode memasak
Tugas cost control dalam pembuatan standar recipe yaitu menghitung biaya-biaya sbb :
Menentukan biaya perunit dan jumlah biaya untuk masing-masing barang yang digunakan
Menentukan harga jual per porsi
Menentukan harga jual yang actual sesuai dengan actual food cost
Hal - hal yang perlu diperhatikan pada saat pembuatan standard recipe :
Pada saat penentuan harga maka harga yang dipakai adalah harga dasar pembelian
Memastikan ukuran standard yang digunakan seperti gram, liter dan pieces
Untuk bahan makanan seperti bumbu tetap dihitung harga perunit dari setiap bahan makanan yang digunakan
Standard recipe harus diupdate untuk memastikan jika terjadi perubahan harga
Setelah standard recipe selesai dibuat selanjutnya di setup oleh bagian IT, untuk dipasang di sistem outlet cashier dengan menetapkan kode menu dan penjelasan mengenai harga dari semua item.
Metode identifikasi khusus ( Specific identification methode )
Metode rata-rata ( average cost methode )
Metode masuk pertama keluar pertama ( first in first out / FIFO )
Metode masuk terakhir keluar pertama ( last in first out / LIFO )
Pada kesempatan ini yang akan kita bahas adalah metode FIFO dan LIFO
Metode Masuk Pertama Keluar Pertama ( FIFO )
Pada metode ini perusahaan harus mencatat cost perunit dari setiap barang yang dibeli, Cost perunit yang digunakan untuk menentukan cost persediaan / Ending inventory dengan menggunakan cost unit dari barang yang terkhir kali masuk, sedangkan untuk menetukan cost barang yang terjual / consumption berdasarkan pada cost perunit dari barang dagangan yang pertama kali masuk.
Berikut adalah contoh Rekonsiliasi pada perusahaan "Belajar Cost control" selama bulan Desember 2012
Food & Beverage Reconciliation
Date Product Description QTY Price Value
1 December Meat Beginning stock 20 kg Rp.92 000 Rp.1 840 000
3 December Purchase 100 kg Rp.95 000 Rp.9 500 000
18 December Purchase 100 kg Rp.97 000 Rp.9 700 000
Jumlah barang yang tersedia untuk dijual = 220 kg Rp.21 040 000
Dari hasil perhitungan inventory pada akhir Desemeebr 2012 bahwa jumlah barang yang masih tersedia di store adalah 25 kg, jadi penghitungannya barang yang terjual adalah 220 - 25 = 195 kg, maka kalau kita hitung cost ending inventory dan cost barang yang terjual dengan menggunakan metode First In First Out ( FIFO ) adalah sebagai berikut :
Cost barang yang siap dijual adalah 220 kg Rp. 21 040 000
Ending inventory 25 kg X Rp. 97 000 Rp. 2 425 000
Cost barang yang terjual 195 kg terdiri dari :
20 kg X Rp. 92 000 Rp. 1 840 000
100 kg X Rp. 95 000 Rp. 9 500 000
75 kg X Rp. 97 000 Rp. 7 275 000
Total Cost barang yang terjual adalah Rp. 18 615 000
Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama ( LIFO )
Pada metode ini menentukan cost ending inventory dan cost barang yang terjual tergantung kepada transaksi cost pembelian barang dagangan yaitu penentuan cost ending inventory berdasarkan kepada
cost barang dagangan yang pertama kali masuk sedangkan untuk penentuan cost barang terjual berdasarkan kepada cost barang yang terakhir kali masuk, dengan menggunakan contoh tadi diatas maka cost ending inventory dan cost barang yang terjual atau consume inventory dapat dihitung sebagai berikut :
Cost barang yang siap dijual 220 kg Rp. 21 040 000
Ending inventory 25 kg terdiri dari :
20 kg X 92 000 Rp. 1 840 000
5 kg X 95 000 Rp. 475 000 Rp. 2 315 000
Cost barang yang terjual 195 kg terdiri dari :
95 kg X 95 000 Rp. 9 025 000
100 kg X 97 000 Rp. 9 700 000
Total cost barang yang terjual adalah Rp. 18 725 000
Demikianlah pembahasan tentang penghitungan cost ending dan consume inventory dengan menggunakan
metode FIFO dan LIFO , semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, terimakasih.........